Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Amazon MP3 Clips

nickodemuse

Rabu, 02 November 2011

A.PENDAPATAN ASLI DAERAH SAMBAS

Tingkat pendapatan daerah dapat diukur antara lain
dari pendapatan per kapita,
penerimaan Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB), Pendapatan Asli
Daerah (PAD) serta gambaraan kualitatif tentang keadaan
sandang, pangan dan perumahan
masyarakat.
Berdasarkan data
tahun 2003 dapat dilihat
Keadaan perekonomian Kabupaten Sambas, yaitu:
PAD sebesar Rp. 16.350.041.018,- Pendapatan per kapita sebesar
Rp. 3.419.922,-
Pajak bumi dan Bangunan (PBB)
sebesar Rp. 8.560.013.046,- Upah minimum regional (UMR)
sebesar Rp .400.000,-

Sedangkan tingkat pendapatan
mata pencaharian menurut sektor, yaitu:
Pertanian berjumlah 207.350
orang Industri Pengolahan berjumlah
152.028 orang Listrik, gas, dan air berjumlah
9.053 orang Bangunan berjumlah 28.308
orang Perdagangan berjumlah 34.695
orang Perhubungan berjumlah 2.874
orang Keuangan berjumlah 9.723
orang Jasa kemasyarakatan lainnya
berjumlah 34.678 orang

Senin, 31 Oktober 2011

jeo meolli huimihaejineun nauikkumeul barabomyeo meonghani seoisseotjyo
deo isang nameunge eobseo modu pogihalkka haesseotjiman
dasi ireonayo han georeum han georeum oneuldo josimseureopge naedideoyo
gaseum gadeukhi duryeoumgwa seolleimeul aneun che
biteulgeorigo heundeullyeodo nan tto hangeoreumeul naedideoyo
eonjenga mannal nae kkumeul hyanghae idaero kkeutnaeneungeon anilji
duryeoumi nal jakkuman mangseorige hajiman
gaseumsok gipeun goseseo
meomchuji anheun ullimi nal apeuro ikkeuljyo han georeum han georeum oneuldo josimseureopge naedideoyo
gaseum gadeukhi duryeoumgwa seolleimeul aneun che
biteulgeorigo heundeullyeodo nan tto hangeoreumeul naedideoyo
eonjenga mannal nae kkumeul hyanghae han georeum han georeum oneuldo josimseureopge naedideoyo
gaseum gadeukhi duryeoumgwa seolleimeul aneun che
biteulgeorigo heundeullyeodo nan tto hangeoreumeul naedideoyo
eonjenga mannal nae kkumeul hyanghae eonjenga mannal nae kkumeul hyanghae

lirik stand by me

Stand by me nal parabwajwo Ajik sarangeul morujiman Stand by me nal jikyobwajwo Ajik sarange sotul-jiman Noreul bulsurok kibuni chohwajyo Nado mollae noraereul bullo Han songi jangmireul sago shipojin Iron nae moseub shingihande Nae ma-eumi noyege dah- neundeuthae I sesangi areumdawo Iron solle-i-meul nodo neuggindamyon Budi chogumman kidaryojwo Together make it love Forever making you smile Noye hwanhan miso gadukhi Together make it love Forever making you smile Ije naesoneul naesoneul chaba Stand by me nareul parabwajyo Ajik sarangeul moreujiman Stand by me nareul jikyobwajwo Ajik sarange sotungot kata Noreul alsurok kaseumi ttollyowa Na-neun geujo utgoman isso Noyege salmyoshi kiseu haebol- kka Chogum ni mame tagasol-kka Nae ma-eumi ojjomyon sarangil- kka Nan ajigeun sujubeunde Ajik hangoreumdo tagasoji mothan Naye sarangeul kidaryojwo Together make it love Forever making you smile Noye hwanhan miso gadukhi Together make it love Forever making you smile Ije chogumsshik chogumsshik kalkke Stand by me nareul parabwajwo Choum to kakkawo chigoshipo Stand by me nareul jikyobwajwo Jom do mochige boigo shipo Nan chew-umen mollasso
Nugunga parabo-neun-ge Ajikdo naema-eum molla Keudae-neun keudaereul saranghae Together make it love Forever making you smile Noye hwanhan miso gadukhi Together make it love Forever making you smile Ije naesoneul naesoneul chaba Stand by me nareul parabwajyo Ajik sarangeul moreujiman Stand by me nareul jikyobwajwo Ajik sarange sotungot kata

Jumat, 28 Oktober 2011

kata mutiara BUNG KARNO tentang sumpah pemuda

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya
akan kucabut semeru dari akarnya, berikan
aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan
dunia” . (Bung Karno) “Tidak seorang pun yang menghitung-
hitung: berapa untung yang kudapat nanti
dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan
berkorban untuk mempertahankannya”.
(Pidato HUT Proklamasi 1956 Bung Karno) “Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian,
bahwa kekuasaan seorang presiden
sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan
yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat.
Dan diatas segalanya adalah kekuasaan
Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno) “Apabila di dalam diri seseorang masih
ada rasa malu dan takut untuk berbuat
suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang
tersebut adalah tidak akan bertemunya ia
dengan kemajuan selangkah pun”. (Bung
Karno) “Bangsa yang besar adalah bangsa yang
menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato
Hari Pahlawan 10 Nop.1961) “Perjuanganku lebih mudah karena
mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan
lebih sulit karena melawan bangsamu
sendiri.” - Bung Karno “Bangsa yang tidak percaya kepada
kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa,
tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa
yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi
1963 Bung Karno) “……….Bangunlah suatu dunia di mana
semua bangsa hidup dalam damai dan
persaudaraan……” (Bung Karno) “Kita belum hidup dalam sinar bulan
purnama, kita masih hidup di masa
pancaroba, tetaplah bersemangat elang
rajawali “. (Pidato HUT Proklamasi, 1949
Soekarno) “Janganlah mengira kita semua sudah
cukup berjasa dengan segi tiga warna.
Selama masih ada ratap tangis di gubuk-
gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah
terus dengan mengucurkan sebanyak-
banyak keringat.” (Pidato HUT Proklamasi, 1950 Bung Karno) “Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan
inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la
yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu
ghoiyiru ma biamfusihim”. Tuhan tidak
merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum
bangsa itu merobah nasibnya” (Pidato HUT Proklamasi, 1964 Bung Karno) “Janganlah melihat ke masa depan
dengan mata buta! Masa yang lampau
adalah berguna sekali untuk menjadi kaca
bengala dari pada masa yang akan
datang.” (Pidato HUT Proklamasi 1966,
Soekarno) “Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita
ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai
bangsa, sehingga kita menjadi bangsa
penjiplak luar negeri, kurang mempercayai
satu sama lain, padahal kita ini asalnya
adalah Rakyat Gotong Royong” (Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno) “Aku Lebih suka lukisan Samodra yang
bergelombangnya memukul, mengebu-
gebu, dari pada lukisan sawah yang adem
ayem tentrem, “Kadyo siniram wayu
sewindu lawase” (Pidato HUT Proklamasi
1964 Bung Karno) “Laki-laki dan perempuan adalah sebagai
dua sayapnya seekor burung. Jika dua
sayap sama kuatnya, maka terbanglah
burung itu sampai ke puncak yang
setinggi-tingginya; jika patah satu dari
pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama
sekali.” ( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno)

Kamis, 27 Oktober 2011

peran pendidikan sebagai

Bangsa Indonesia adalah bangsa
yang besar karena didukung oleh
sejumlah fakta positif yaitu
posisi geopolitik yang sangat
strategis, kekayaan alam dan
keanekaragaman hayati, kemajemukan sosial budaya, dan
jumlah penduduk yang besar.
Oleh karena itu, bangsa
Indonesia memiliki peluang yang
sangat besar untuk menjadi
bangsa yang maju, adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat.
Namun demikian, untuk
mewujudkan itu semua, kita
masih menghadapi berbagai
masalah nasional yang kompleks,
yang tidak kunjung selesai. Misalnya aspek politik, di mana
masalahnya mencakup
kerancuan sistem
ketatanegaraan dan
pemerintahan, kelembagaan
Negara yang tidak efektif, sistem kepartaian yang tidak
mendukung, dan
berkembangnya pragmatism
politik. Lalu aspek ekonomi,
masalahnya meliputi paradigm
ekonomi yang tidak konsisten, struktur ekonomi dualistis,
kebijakan fiskal yang belum
mandiri, sistem keuangan dan
perbankan yang tidak memihak,
dan kebijakan perdagangan dan
industri yang liberal. Dan aspek sosial budaya, masalah yang
terjadi saat ini adalah
memudarnya rasa dan ikatan
kebangsaan, disorientasi nilai
keagamaan, memudarnya kohesi
dan integrasi sosial, dan melemahnya mentalitas positif.
Dari sejumlah fakta positif atas
modal besar yang dimiliki bangsa
Indonesia, jumlah penduduk
yang besar menjadi modal yang
paling penting karena kemajuan dan kemunduran suatu bangsa
sangat bergantung pada faktor
manusianya (SDM). Masalah-
masalah politik, ekonomi, dan
sosial budaya juga dapat
diselesaikan dengan SDM. Namun untuk menyelesaikan masalah-
masalah tersebut dan
menghadapi berbagai persaingan
peradaban yang tinggi untuk
menjadi Indonesia yang lebih
maju diperlukan revitalisasi dan penguatan karakter SDM yang
kuat. Salah satu aspek yang
dapat dilakukan untuk
mempersiapkan karakter SDM
yang kuat adalah melalui
pendidikan. Pendidikan merupakan upaya
yang terencana dalam proses
pembimbingan dan
pembelajaran bagi individu agar
berkembang dan tumbuh
menjadi manusia yang mandiri, bertanggungjawab, kreatif,
berilmu, sehat, dan berakhlak
mulia baik dilihat dari aspek
jasmani maupun ruhani. Manusia
yang berakhlak mulia, yang
memiliki moralitas tinggi sangat dituntut untuk dibentuk atau
dibangun. Bangsa Indonesia
tidak hanya sekedar
memancarkan kemilau
pentingnya pendidikan,
melainkan bagaimana bangsa Indonesia mampu merealisasikan
konsep pendidikan dengan cara
pembinaan, pelatihan dan
pemberdayaan SDM Indonesia
secara berkelanjutan dan merata.
Melihat kondisi sekarang dan akan datang, ketersediaan SDM
yang berkarakter merupakan
kebutuhan yang amat vital. Ini
dilakukan untuk mempersiapkan
tantangan global dan daya saing
bangsa. Memang tidak mudah untuk menghasilkan SDM yang
tertuang dalam UU tersebut.
Persoalannya adalah hingga saat
ini SDM Indonesia masih belum
mencerminkan cita-cita
pendidikan yang diharapkan. Misalnya untuk kasus-kasus
aktual, masih banyak ditemukan
siswa yang menyontek di kala
sedang menghadapi ujian,
bersikap malas, tawuran antar
sesama siswa, melakukan pergaulan bebas, terlibat
narkoba, dan lain-lain. Di sisi lain,
ditemukan guru, pendidik yang
senantiasa memberikan contoh-
contoh baik ke siswanya, juga
tidak kalah mentalnya. Misalnya guru tidak jarang melakukan
kecurangan-kecurangan dalam
sertifikasi dan dalam ujian
nasional (UN). Kondisi ini terus
terang sangat memilukan dan
mengkhawatirkan bagi bangsa Indonesia yang telah merdeka
sejak tahun 1945. Memang
masalah ini tidak dapat
digeneralisir, namun setidaknya
ini fakta yang tidak boleh
diabaikan karena kita tidak menginginkan anak bangsa kita
kelak menjadi manusia yang
tidak bermoral sebagaimana saat
ini sering kita melihat tayangan
TV yang mempertontonkan
berita-berita seperti pencurian, perampokan, pemerkosaan,
korupsi, dan penculikan, yang
dilakukan tidak hanya oleh
orang-orang dewasa, tapi juga
oleh anak-anak usia belasan.
Mencermati hal ini, saya mencoba memberikan beberapa
gagasan untuk penguatan mutu
karakter SDM sehingga mampu
membentuk pribadi yang kuat
dan tangguh. Pembahasan ini
akan mengacu pada peran pendidikan, terutama pendidik
sebagai kunci keberhasilan
implementasi pendidikan
karakter di sekolah dan
lingkungan baik keluarga
maupun masyarakat. Pendidikan merupakan hal
terpenting untuk membentuk
kepribadian. Pendidikan itu tidak
selalu berasal dari pendidikan
formal seperti sekolah atau
perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non formal pun
memiliki peran yang sama untuk
membentuk kepribadian,
terutama anak atau peserta
didik. Pendidikan formal adalah
jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas
pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan
tinggi. Sementara pendidikan
nonformal adalah jalur
pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan
secara terstruktur dan
berjenjang. Satuan pendidikan
nonformal terdiri atas lembaga
kursus, lembaga pelatihan,
kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis
taklim, serta satuan pendidikan
yang sejenis. Sedangkan
pendidikan informal adalah jalur
pendidikan keluarga dan
lingkungan. Kegiatan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga
dan lingkungan dalam bentuk
kegiatan belajar secara mandiri.
Memperhatikan ketiga jenis
pendidikan di atas, ada
kecenderungan bahwa pendidikan formal, pendidikan
informal dan pendidikan non
formal yang selama ini berjalan
terpisah satu dengan yang
lainnya. Mereka tidak saling
mendukung untuk peningkatan pembentukan kepribadian
peserta didik. Setiap lembaga
pendidikan tersebut berjalan
masing-masing sehingga yang
terjadi sekarang adalah
pembentukan pribadi peserta didik menjadi parsial, misalnya
anak bersikap baik di rumah,
namun ketika keluar rumah atau
berada di sekolah ia melakukan
perkelahian antarpelajar,
memiliki ’ketertarikan’ bergaul dengan WTS atau
melakukan perampokan. Sikap-
sikap seperti ini merupakan
bagian dari penyimpangan
moralitas dan prilaku sosial
pelajar. Oleh karena itu, ke depan dalam
rangka membangun dan
melakukan penguatan peserta
didik perlu menyinergiskan
ketiga komponen lembaga
pendidikan. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya adalah
pendidik dan orangtua
berkumpul bersama mencoba
memahami gejala-gejala anak
pada fase negatif, yang meliputi
keinginan untuk menyendiri, kurang kemauan untuk bekerja,
mengalami kejenuhan, ada rasa
kegelisahan, ada pertentangan
sosial, ada kepekaan emosional,
kurang percaya diri, mulai timbul
minat pada lawan jenis, adanya perasaan malu yang berlebihan,
dan kesukaan berkhayal
(Mappiare dalam Suyanto dan
Hisyam, 2000: 186-87). Dengan
mempelajari gejala-gejala
negatif yang dimiliki anak remaja pada umumnya, orangtua dan
pendidik akan dapat menyadari
dan melakukan upaya perbaikan
perlakuan sikap terhadap anak
dalam proses pendidikan formal,
non formal dan informal.

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.